PTSB Malaysia, Poltek Kutaraja dan Perguruan Tinggi di Aceh Lakukan PkM di Gampong Alue Naga

PTSB Malaysia, Poltek Kutaraja dan Perguruan Tinggi di Aceh Lakukan PkM di Gampong Alue Naga

Laporan Jalimin | Banda Aceh 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Politeknik Tuanku Sultan Bahiyah (PTSB) dari Kedah, Malaysia, Politeknik Kutaraja, Politeknik Ganesha Medan, STIM Sukma, dan STIKES As-Syifa Banda Aceh yang tergabung dalam Kemitraan Internasional Antar Perguruan Tinggi Aceh melakukan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Gampong Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, pada Kamis, (20/02/2020).

Gampong Alue Naga merupakan desa perbatasan antara Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar yang berpotongan dengan Krueng Aceh. Desa ini berjarak 10 kilometer dari pusat Kota Banda Aceh.

Di Gampong Alue Naga terdapat seratusan kepala keluarga yang berprofesi sebagai nelayan kecil dan pencari tiram, sehingga kondisi ekonomi keluarga mereka rata-rata berpendapatan rendah. Karena itu mereka butuh perhatian.

Keusyik Gampong Alue Naga, Tgk Faisal Dan menyambut gembira kedatangan delegasi PTSB Kedah Malaysia, Politeknik Kutaraja, dan sejumlah perguruan tinggi lain yang melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bagi warga desanya.

Menurut Tgk Faisal Dan, warganya memang sangat membutuhkan bantuan semua pihak terutama dari perguruan tinggi untuk memberikan pencerahan dan pengetahuan baru dalam mengelola usaha tiram yang telah dijalani secara turun-temurun.

“Besar harapan saya, dengan kehadiran para dosen dan pakar di bidang masing-masing di Gampong Alue Naga dapat membantu warga dalam memajukan usahanya. Adapun usaha yang sedang berjalan yaitu kerupuk tiram.” harap Tgk Faisal.

Sementara itu, Puan Yusma bt Yusof dari PTSB menyerahkan secara simbolis bingkisan dari program Corporate Social Responsibility (CSR) kepada kelompok ibu-ibu pencari tiram yang diterima oleh Ibu Kepala Dusun Musafir Gampong Alue Naga mewakili ibu-ibu yang lainnya.

Puan Yusma bt Yusof menambahkan, ia merasa terkesan dengan ibu-ibu para pencari tiram Gampong Alue Naga yang memiliki semangat tinggi dalam menjalankan kegiatannya. Ia mengaku ingin belajar dari ibu-ibu bagaimana cara membuat kerupuk tiram sebab di negerinya tidak ada produk semacam itu.

Sedangkan Ketua STIM Sukma Medan, Wardayani, lebih menekankan pada pentingnya aspek manajemen usaha terutama perhitungan biaya pokok produksi dan harga jual. Sehingga ibu-ibu pelaku usaha dapat mengetahui potensi keuntungan usahanya.

Selain itu, lanjut Wardayani, pelaku usaha juga harus dapat meningkatkan nilai tambah (value added) sehingga produk akan memberikan keuntungan yang lebih besar bagi pemilik usaha. Termasuk pemanfaatan produk sampingan seperti kulit tiram.

‘Dalam meningkatkan pengetahuan pun saat ini ibu-ibu pelaku usaha dapat memanfaatkan internet dan belajar dari smartphone ataupun android. Seperti teknik mengolah kulit tiram menjadi souvenir menarik. Semua itu dapat dipelajari melalui video tutorial di YouTube,” ulas Wardayani.(*)

Tinggalkan Balasan